Pekanbaru, Detikriau65.com – 24 September 2026 – Pembinaan kemandirian diuji bukan ketika bibit ditanam, tetapi ketika hasilnya mampu dipanen dan dimanfaatkan. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan panen cabai rawit bersama warga binaan di Lapas Terbuka Kelas III Rumbai.
Panen menjadi bukti bahwa lahan pembinaan dapat dikelola menjadi ruang produktif sekaligus sarana pembelajaran bagi warga binaan. Dari proses penyemaian, penanaman, perawatan hingga panen, warga binaan terlibat langsung dalam setiap tahapan budidaya.
Kegiatan tersebut juga menjadi evaluasi nyata terhadap keberlanjutan program pertanian yang dijalankan. Sebab, pembinaan kemandirian tidak boleh berhenti pada kegiatan menanam atau sekadar memenuhi agenda. Hasil produksi dan kemampuan warga binaan dalam mengelola komoditas menjadi bagian penting yang perlu terus dikembangkan.
Cabai rawit dipilih sebagai salah satu komoditas yang memiliki nilai guna dan dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia. Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, ketekunan, dan pengelolaan hasil produksi.
Bagi Lapas Terbuka Kelas III Rumbai, panen menjadi momentum untuk memastikan pembinaan benar-benar menghasilkan keterampilan yang dapat dibawa keluar setelah warga binaan menyelesaikan masa pidana. Setiap hasil panen menjadi bagian dari proses yang lebih besar: membangun kemampuan agar warga binaan tidak hanya siap kembali ke masyarakat, tetapi juga memiliki bekal untuk menjadi lebih mandiri.
Ke depan, pengelolaan pertanian didorong agar tidak berhenti pada satu kali panen. Konsistensi produksi, peningkatan kualitas budidaya, serta pemanfaatan hasil menjadi tantangan berikutnya agar program pembinaan kemandirian memiliki dampak yang berkelanjutan.
Editor : Zunardi



Discussion about this post